Penggunaan Kata “As”

Dalam artikel ini, Peace Kampung Inggris akan membahas penggunaan kata as sebagai kata penghubung tingkat bawah (subordinate conjunction).

As sebagai kata penghubung tingkat bawah (subordinate conjunction)

Catatlah bahwa kata as yang berdiri sendiri digunakan sebagai kata penghubung dengan berbagai cara:

As = when (untuk klausa waktu)

Kita boleh menggunakan as sebagai pengganti alternatif dari kata when ketika kita membandingkan dua peristiwa atau kejadian singkat yang terjadi pada periode waktu yang sama. Kita sering mengkombinasikannya dengan cara berikut:

  • She left the house (just) as the sun was rising. (Dia meninggalkan rumah ketika matahari sedang terbit)
  • The telephone rang (justas I was climbing into my bath. (Telepon berdering ketika saya sedang bersiap mandi)

As = because (untuk klausa yang menyatakan alasan)

Kita boleh menggunakan as sebagai pengganti alternatif dari kata because ketika alasan dari suatu kejadian telah diketahui atau pembuktian diri kepada pembaca atau pendengar. Klausa as seringkali diletakkan di awal kalimat. Kata because memberikan penekanan pada alasan atau memaparkan informasi baru. Bandingkan contoh berikut:

  • As Mary was the eldest child, she had to look after her younger brothers and sisters. (Karena Mary adalah anak tertua, dia harus mengurus adik laki-laki dan perempuannya)
  • As it had started to rain we had to abandon the picnic. (Karena sudah mulai hujan kita harus membatalkan piknik)
  • I’ve decided to end our relationship because my boyfriend has been cheating on me. (Saya telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita karena pacar saya telah menyelingkuhi saya)

As untuk klausa yang menyatakan proporsi

Disini, as memiliki arti seiring / ‘selama periode waktu yang sama dengan……’:

  • I think you become more tolerant of other people as you get older. (Saya rasa kamu menjadi lebih toleran kepada orang lain seiring kamu bertamnbah tua)
  • As prices rose, the demand for higher salaries became more intense.(Seiring harga naik, permintaan untuk gaji yang lebih tinggi menjadi lebih kuat)

As sebagai kata depan

Akhirnya, catatlah bahwa as juga dapat digunakan sebagai kata depan ketika kita ingin menghindari menggunakan kata kerja ‘to be’ (bukan berarti as dan ‘to be’ selalu memiliki arti yang sama):

  • As his father, it is your duty to ensure that he goes to school every day.(Sebagai ayahnya, itu tugas anda untuk memastikan bahwa dia pergi ke sekolah setiap hari)
  • As you are his father, it is your duty to ensure that he goes to school every day. (Karena anda ayahnya, itu tugas anda untuk memastikan bahwa dia pergi ke sekolah setiap hari)
  • As a social historian, I am always interested in people’s life styles. (Sebagai sejarawan social, saya selalu tertarik dengan gaya hidup orang-orang)
  • Being a social historian, I am always interested in people’s life styles. (Menjadi seorang sejarawan social, saya selalu tertarik dengan gaya hidup orang-orang)
  • He established his reputation as a freedom fighter through many heroic acts.(Dia menetapkan reputasinya sebagai pejuang kebebasan melalui banyak aksi kepahlawanan)
  • The police described him as a dangerous criminal. (Polisi mendiskripsikannya sebagai seorang criminal berbahaya)
  • The police considered him to be a dangerous criminal. (Polisi menganggapnya sebagai criminal berbahaya)

Oke, demikian artikel penggunaan kata as, semoga bermanfaat ya.

Sumber: http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/grammar/learnit/learnitv158.shtml

Penggunaan ‘End up’ dan ‘To be + up to’

Kali ini Peace Kampung Inggris akan membahas dua contoh kata kerja dalam bentuk frase (phrasal verbs) yaitu ‘end up’ dan ‘to be + up to’. Keduanya dalah kata kerja dengan lebih dari satu kata penyusun. Kata kerja-kata kerja semacam ini memiliki lebih dari satu bagian dan dapat mempersulit mereka yang sedang mempelajari bahasa Inggris, sebagian karena jumlahnya yang banyak dan juga karena kata-kata ini seringkali memiliki lebih dari satu arti.

To end up – berakhir

Pertaman-tama, ‘end up’ memiliki makna mencapai posisi akhir. Contohnya, tentang perjalanan:

  • “They are travelling across Europe by train and they’ll end up in Paris. From there, they fly back to the US.” (Mereka bepergian melintasi Eropa dengan kereta dan mereka akan berakhir di Paris. Dari sini mereka terbang kembali ke Amerika Serikat)

Atau contoh lain dari kehidupan:

  • “I studied medicine at university but I ended up working for an accountancy firm.” (Saya belajar ilmu kedokteran di universitas tapi saya berakhir bekerja untuk firma akuntansi)

Pada contoh kedua tersebut, pekerjaan terakhir untuk subyek dalam kalimat adalah sebagai seorang akuntan meskipun dia memulai karirnya dengan mempelajari ilmu kedokteran. Orang tersebut berakhir (ended up) bekerja sebagai seorang akuntan.

 

To be + up to – mampu

‘To be + up to’ memiliki dua arti. Arti yang pertama adalah bahwa seseorang mampu melakukan suatu tugas atau menghadapi sebuah tantangan. Contohnya:

  • “She’s up to the job. In fact, she’ll probably deliver the report early.”  (Dia mampu dalam pekerjaannya. Bahkan, dia mungkin akan menyampaikan laporannya awal)

Di sini, wanita tersebut benar-benar mampu melakukan pekerjaannya. ‘She’s up to the job’!

 

To be + up to – lakukan / rencanakan

Arti yang kedua, dan saya pikir ini adalah yang paling umum mirip dengan melakukan sesuatu / lakukan. Jika seorang ayah misalnya, mendengar anaknya membuat keributan, dia mungkin berteriak:

  • “What are you up to?” (Apa yang sedang kamu lakukan?)

dan dia ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan anaknya. Arti dari frase ‘ to be + up to’ juga sering digunakan ketika anda mencurigai sesuatu. Anda berpikir seseorang bertingkah dengan cara sangat aneh dan anda tidak tahu kenapa dia melakukannya. Contohnya seorang guru melihat murid-muridnya masuk ke sebuah ruang kelas kosong. Sang guru mungkin mengatakan:

  • “Did you see those students go in that room? What are they up to? Let’s go and have a look.” (Apakah kamu melihat murid-murid itu masuk ke ruangan itu? Apa yang sedang mereka rencanakan? Mari kita pergi dan lihat)

Frase ini, ‘to be + up to’, juga digunakan untuk membicarakan waktu luang seseorang. Contohnya:

  • “What are you up to this weekend?” (Apa yang kamu rencanakan akhir pekan ini?)

Ini adalah cara informal untuk menanyakan apa yang akan seseorang lakukan selama akhir pekan, untuk menanyakan jika mereka telah memiliki rencana.

 

Sumber:

http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/radio/specials/1535_questionanswer/page3.shtml

Penggunaan Hardly / Scarcely, Neither / Nor, So / Too

Kali ini Peace Kampung Inggris akan membahas penggunaan Hardly / Scarcely, Neither / Nor, So / Too.

Untuk menyatakan respon bahwa kita setuju atas suatu pernyataan negatif seperti, “I hardly know this author” (Saya hampir tidak tahu penulis ini), dapatkah kita mengatakan “neither do I” atau “so do I”? Mari simak ulasan berikut:

Hardly —-> Neither / Nor

Untuk menjawab pertanyaan diatas, pada dasarnya hanya “neither do I” dan “nor do I” yang mungkin digunakan. Ini karena hardly memiliki makna negatif. Hardly memiliki arti sama dengan hampir tidak sama sekali. Jadi jika anda ingin menyetujui penyataan diatas, anda juga akan memerlukan kata keterangan negatif dan menggunakan neither atau nor sebagai respon. Perlu diketahui bahwa kata scarcely memiliki arti negatif yang sama dengan hardly dan keduanya dapat digunakan dalam kalimat diatas. Bandingkan contoh berikut:

  • I can hardly / scarcely believe you’re twenty years old now. ~ Nor Neither can I! (Aku hampir tidak dapat percaya kamu dua puluh tahun sekarang)
  • They’re hardly / scarcely ever at home. (Mereka hampir tidak pernah di rumah)
    Neither Nor are we!
    (Begitu juga kita)
  • He’s dead now, but I hardly / scarcely knew him. (Dia sudah meninggal sekarang, tapi saya hampir tidak mengenalnya)
    Neither / Nor did I.
    (Demikian juga saya)

Catatlah bahwa neither / nor selalu muncul di bagian awal klausa respon dan pembalikan posisi subyek dan kata kerja diperlukan untuk menyatakan bahwa kita setuju dengan pernyataan pada klausa pertama. (Subyek + kata kerja —> Neither / nor + kata kerja + subyek)

Not either

Sebagai alternatif dari neither / nor anda juga dapat menggunakan ‘not either’ yang memiliki arti sama, tapi susunan kata tetap normal (Subyek + kata kerja + not either):

  • She had changed so much. I could hardly /scarcely recognize her. ~ I couldn’t either. (Dia telah sangat banyak berubah. Saya hampir tidak bisa mengenalinya. ~ Saya juga tidak)
  • I’ve got hardly /scarcely any money left. What about you? ~ I haven’t either. (Aku hampir tidak memiliki uang tersisa. Bagaimana dengan kamu? ~ Saya juga tidak)

Neither…..nor

‘Neither….nor’ digunakan bersama ketika kita ingin menghubungkan dua pernyataan negatif:

  • When I spoke to him, he neither smiled nor looked at me. (Ketika saya berbicara dengannya, dia tidak tersenyum atau menatap saya)
  • Neither the chairman nor the treasurer was / were able to attend the meeting. (Baik ketua maupun bendahara tidak dapat menghadiri pertemuan)
  • Don’t bother preparing dessert because neither Jane nor Julie eat / eats anything sweet. (Jangan repot-repot menyiapkan hidangan penutup karena baik Jane maupun Julie tidak makan segala yang manis)

Catatlah bahwa ketika subyek tunggal dihubungkan dengan ‘neither…..nor’, kata kerja yang mengikutinya dapat berupa kata kerja tunggal maupun jamak.

So / too

Ketika tingkat kejadian suatu peristiwa meningkat dari tidak pernah atau hampir tidak pernah menjadi sekali-kali atau kadang-kadang, kata keterangan lebih memberikan arti positif daripada negatif pada apa yang diucapkan. Jika kita ingin menyetujui suatu pernyataan dengan cara yang positif, ini adalah kesempatan kita untuk menggunakan so atau too. Bandingkan contoh berikut:

  • would never work as a shop assistant in a large department store. ~ Neither would I. (Saya tidak akan pernah (mau) bekerja sebagai asisten toko di sebuah toserba. ~ Begitu pula saya)
  • could hardly / scarcely understand a word he was saying ~ Nor could your parents. (Saya hampir tidak dapat mengerti satu kata pun yang dia katakan. ~ demikian pula orang tuamu)
  • Neither Henry nor Harry is / are coming to Edward’s party. ~ I’m not either. (Baik Henry maupun Harry tidak akan datang ke pesta Edward)
  • They occasionally eat lunch at ‘The Blue Parrot’. (Mereka sekali-kali makan siang di ‘The Blue Parrot’)
    ~ So does Tom. / Tom does too.
    (~ Begitu juga Tom / Tom juga begitu)
  • sometimes have to work at weekends to get everything done ~ So do we. / We do too. (Saya kadang-kadang harus bekerja di akhir pekan untuk menyelesaikan segalanya. ~ Begitu juga kami / Kami juga begitu))
  • go to the cinema quite often – twice a week usually(Saya pergi ke bioskop cukup sering – dua kali seminggu biasanya)
    Me too. / So do I.
    (~ Saya juga / begitu pula saya)
  • She always uses olive oil in her cooking. (Dia selalu menggunakan minyak zaitun dalam masakannya)
    So do my Spanish friends / My Spanish friends do too.
    (~ Begitu juga teman Spanyol saya / Teman Spanyol saya melakukannya juga)

Catatlah bahwa ungkapan ‘Me too’ dan ‘Me neither’ yang mana keduanya digunakan dalam percakapan yang sangat tidak formal, hanya dapat digunakan dengan subyek tunggal:

  • Look, it’s already two o’ clock and I haven’t done any work today. ~ Me neither. (Lihat, ini sudah jam dua dan saya belum melakukan pekerjaan apapun hari ini. ~ Saya juga belum)
  • I’m so tired I could sleep for twelve hours. ~ Me too. (Saya sangat lelah saya dapat tidur selama dua belas jam. ~ Saya juga)

 

Sumber:

http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/grammar/learnit/learnitv166.shtml

Letak Kata Sifat (Adjectives)

Dimana seharusnya kata sifat diletakkan dalam sebuah kalimat? Mari simak ulasan dari Peace Kampung Inggris berikut:

Kata sifat sebelum kata benda

Kata sifat normalnya diletakkan sebelum kata benda dan ini dikenal sebagai posisi perubah atau atribut (karena bersifat memodifikasi makna dari kata benda). Maka dari itu, kita normalnya mengatakan:

  • Getting all the way round Brazil in five working days proved an impossible mission. (Berkeliling se-antero Brazil dalam lima hari kerja terbukti sebuah misi yang tidak mungkin)
  • He asked me a number of difficult questions. (Dia menanyakan kepada saya sejumlah pertanyaan sulit)
  • I was sitting next to the open window which I couldn’t close. (Saya sedang duduk disebelah jendela yang terbuka  yang tidak dapat saya tutup)

Kalau anda pernah mendengar frase ‘Mission Impossible’ yang seingat saya berasal dari nama sebuah serial televise Amerika yang kemudian dibuat menjadi sebuah film. Faktanya, tidak ada alasan untuk meletakkan kata sifat setelah kata benda ‘mission (noun) – impossible (adjective)’ selain untuk memberikan efek. Judul ini menjadi terdengar orisinil dan karena itu menarik perhatian.

Pengecualian atas aturan umum : Kata sifat setelah kata benda

Kata sifat atribut dapat diletakkan setelah kata kerja yang memiliki ‘to be’ ( is, am, are, was, were) dan kata kerja kopuler (copular verbs) lainnya. Jadi kita akan memiliki kalimat seperti:

  • The mission was impossible. (Misi itu mustahil)
  • All the questions he asked were difficult. (Seluruh pertanyaan yang dia tanyakan sulit)
  • The window remained open. (Jendelanya tetap terbuka)

Kata kerja kopuler adalah jenis kata kerja yang digunakan untuk menggabungkan kata sifat atau kata benda untuk melengkapi subyek, mediskripsikan keadaan dari sesuatu atau seseorang atau perubahan keadaan. Kata ini meliputi ‘to be’ (is, am, are, was, were) dan kata-kata seperti seem  appear, look, sound, smell, tastefeel, getbecomestayremainkeepgrowgoturn:

  • The policemen became angry. (Polisi itu menjadi marah)
  • The suspects remained calm although I could see that they were anxious. (Para tersangka tetap tenang meskipun saya dapat melihat bahwa mereka cemas)
  • The soup lookedsmelt and tasted good. (Supnya terlihat, tercium dan terasa enak)

Dan juga, kata sifat atribut dengan pelengkap mereka sendiri, contoh: capable of achieving first-class degrees (mampu meraih gelar kelas satu), biasanya membutuhkan keseluruhan ungkapan (yang menjadi satu kesatuan keterangan) untuk muncul setelah kata benda dan bukannya sebelum kata benda:

  • We are recruiting students capable of achieving first-class degrees. (Kami merekrut murid-murid yang mampu meraih gelar kelas satu)
    NOT: We are recruiting capable of achieving first class degree students.
    BUT: She was a capable student.

Klausa ‘students capable of achieving first-class degrees’ menjadi satu kesatuan frase yang menerangkan criteria murid yang direkrut.

  • I used to live in a house next to the Royal Opera House. (Saya biasanya tinggal di sebuah rumah di sebelah Gedung Opera Royal)
    NOT: I used to live in a next to the Royal Opera House house.
    BUT: I live quite near you. In the next street, in fact.

Klausa ‘next to the Royal Opera House’ menjadi satu kesatuan frase yang menerangkan letah rumah dari subyek.

Dengan cara yang sama, participles (frase yang terbentuk dari kata kerja dan kata sifat: ‘working woman’, ‘burned toast’, dll) diletakkan setelah kata benda yang mereka definisikan:

  • The people questioned about the incident gave very vivid accounts of what had happened. (Orang-orang yang ditanyai tentang kejadian itu memberikan keterangan yang sangat jelas atas apa yang telah terjadi)
  • The issues discussed at the meeting all had some bearing on world peace. (Masalah yang didiskusikan pada pertemuan itu seluruhnya memiliki sangkut paut dengan perdamaian dunia)

Akan tetapi dalam seluruh empat contoh terakhir berikut ini, mungkin lebih normal untuk menggunakan klausa/anak kalimat yang berfungsi sebagai kata sifat yang menjelaskan kata benda atau kata ganti pada induk kalimat dari suatu kalimat yang kompleks:

  • We are recruiting students who are capable of achieving first-class degrees. (Kami merekrut murid-murid yang mampu meraih gelar kelas satu)
  • I used to live in a house which was next to the Royal Opera House. (Saya biasanya tinggal di sebuah rumah yang terletak di sebelah Gedung Opera Royal)
  • The people who were questioned about the incident gave vivid accounts of what had happened. (Orang-orang yang ditanyai tentang kejadian itu memberikan keterangan yang jelas atas apa yang terjadi)
  • The issues that were discussed at the meeting all had some bearing on world peace. (Masalah yang didiskusikan pada pertemuan itu, seluruhnya memiliki sangkut paut dengan perdamaian dunia)

Kata sifat muncul setelah kebanyakan kata benda ukuran (kilometer, meter, celsius, pounds, tons, dll) dan setelah kata dengan awalan some-, any-, dan no- :

  • The fence around the estate was three metres high, thirty-five kilometres long and one hundred and twenty years old. (Pagar disekitar perkebunan sekitar tiga meter tingginya, tiga puluh lima kilometer panjangnya, dan berumur seratus dua puluh tahun)
  • This place doesn’t look very promising, but let’s try and find somewhere nice for dinner. (Tempat ini tidak terlihat begitu menjanjikan, tapi mari kita coba dan temukan suatu tempat yang bagus untuk makan malam)
  • I couldn’t find anything interesting on the television so I had an early night. (Saya tidak dapat menemukan apapun yang menarik di televisi jadi saya tidur awal)
  • There’s somebody outside who wants to speak to you. Shall I let him in? (Ada seseorang diluar yang ingin berbicara denganmu. Haruskah aku biarkan dia masuk?)
  • Nobody present at the meeting was able to offer me any useful advice. (Tak seorang pun yang hadir di pertemuan yang  mampu memberikan saya saran yang berguna)

 

Sumber:

http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/grammar/learnit/learnitv133.shtml

Perbedaan Penggunaan Likely, Likely That, Likely To

Kali ini Peace Kampung Inggris akan membahas penggunaan kata atau frase likely, ‘likely that’, dan ‘likely to’ serta bagaimana menggunakannya dalam kalimat.

Likely (mungkin)

Likely paling sering digunakan sebagai kata sifat yang memiliki arti kata mungkin (lawan dari likely adalah unlikely / tidak mungkin). Jika sesuatu dianggap mungkin (likely), hal tersebut mungkin akan terjadi:

  • The most likely cause of the fire in the stadium was an unextinguished cigarette. (Penyebab paling mungkin dari kebakaran di stadion itu adalah rokok yang tidak di padamkan)
  • The most likely outcome to the investigation is that the stadium will have to be rebuilt. (Hasil paling mungkin dari investigasi itu adalah bahwa stadion itu harus di bangun ulang)

Dengan kata pemodifikasi seperti most, quite atau very, dan likely yang terkadang juga digunakan sebagai kata keterangan , yang memiliki arti paling mungkin (most probably), maka :

  • They’ll quite likely invite you out to eat in a restaurant when you’re staying with them. (Mereka paling/sangat mungkin akan mengundang anda untuk makan di sebuah restoran ketika anda tinggal bersama mereka)

It’s likely that + klausa

Likely sangat sering digunakan dengan kata ‘it’ sebagai pendukung subyek:

  • It’s unlikely that this afternoon’s session will last very long. It should be over by five o’ clock. (Sepertinya tidak mungkin bahwa sesi siang ini akan berlangsung sangat lama. Ini seharusnya selesai pukul lima)
  • It’s more than likely that I shall see Chris in Cambridge. I am almost certain to bump into him, in fact. (Itu lebih dari mungkin bahwa saya akan bertemu Chris di Cambridge. Saya hampir yakin berpapasan dengan dia, sebenarnya)

To be +  likely to + infinitive

Sebagai alternatif, kita dapat menggunakan struktur to be + unlikely to + infinitive dengan subyek normal. Tetapi kata probable / probably tidak dapat digunakan dengan cara ini:

  • This afternoon’s session is unlikely to last very long. (Sesi siang ini sepertinya tidak mungkin berlangsung sangat lama)
  • I’m unlikely to be back late from the meeting. (Saya sepertinya tidak mungkin kembali terlambat dari pertemuan / rapat)
  • Are you likely to be staying in when you get back? (Apakah mungkin kamu tinggal ketika kamu kembali?)
  • The authorities are likely to be hard pressed to respond to the disaster. (Pihak yang berwajib sepertinya mungkin kesulitan untuk merespon bencana alam ini)

Catatlah bahwa jika kita ingin menggunakan kata probably sebagai alternatif dalam contoh diatas, maka perlu untuk menyusun ulang frase dalam kalimat menjadi seperti berikut:

  • This afternoon’s session will probably finish quite early. (Sesi siang ini mungkin akan selesai cukup awal)
  • I shall probably be back quite early from the meeting. (Saya mungkin akan kembali cukup awal dari pertemuan / rapat)
  • Will you probably stay in when you get back? (Mungkinkah kamu akan tinggal ketika kamu kembali?)
  • The authorities will probably be hard pressed to respond to the disaster. (Pihak yang berwajib mungkin akan kesulitan untuk merespon bencana alam ini)

 

Sumber:

http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/grammar/learnit/learnitv275.shtml

Perbedaan Incredible dan Unbelievable

Kali ini Peace Kampung Inggris akan membahas perbedaan kata incredible dan unbelievable serta bagaimana penggunaan yang benar untuk kedua kata ini.

Incredible = Luar biasa

Unbelievable = Tidak dapat dipercaya

Kedua kata sifat (adjectives) ini, incredible dan unbelievable, cukup dapat digunakan secara bergantian untuk menggantikan satu sama lainnya, dan untuk kedua kata ini anda dapat menambahkan kata yang ketiga yaitu unimaginable (tidak dapat dibayangkan).

Ketiganya mendiskripsikan hal atau kejadian yang sangat luar biasa yang tidak dapat di bayangkan atau dipercaya oleh subyek yang sedang berbicara.

Bentuk kata keterangan (adverbs) dari ketika kata ini yaitu, incredibly, unbelievably, dan unimaginably.

Anda dapat mengganti kata sifat atau kata keterangan ini  dalam diskusi / percakapan semau anda:

  • ‘When she died, Aunt Isobel left me an incredible amount of money – so much I didn’t know what to do with it!’ (Ketika dia meninggal, bibi Isobel mewariskan saya uang dalam jumlah yang luar biasa – begitu banyak saya tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan [uang] itu)
  • ‘I intend to work incredibly hard over the summer so that I pass my exams in September.’ (Saya berniat untuk bekerja luar biasa keras selama musim panas sehingga saya lulus ujian saya di bulan September)
  • ‘My performance at the Christmas concert was unbelievably bad.’ (Penampilan saya di konser natal tidak dapat dipercaya buruknya)
  • ‘The weather on the mountain yesterday was unbelievable. There was no chance of us getting to the top.’ (Cuaca di gunung kemarin tidak dapat dipercaya. Tidak ada kesempatan bagi kita untuk mencampai puncak)
  • ‘The operation was performed under almost unimaginable conditions. It is unbelievable that he survived.’ (Operasi itu dilaksanakan dalam kondisi yang hampir tidak dapat dibayangkan. Ini tidak dapat dipercaya bahwa dia selamat)
  • ‘The new computer game was unimaginably difficult. Neither Mike nor I could work out how to progress from level 1 to level 2.’ (Permainan komputer barunya sulitnya tidak dapat dibayangkan. Baik saya ataupun Mike tidak dapat berhasil bagaimana untuk maju dari level 1 ke level 2)

 

Sumber:

  • http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/grammar/learnit/learnitv81.shtml

Perbedaan Penggunaan Actually, In Fact, Well

Peace Kampung Inggris kali ini akan membahas apa perbedaan pada penggunaan kata actually, ‘in fact’, dan well? Pada dasarnya, ketiganya sangat mirip tetapi terdapat pula sedikit perbedaan pada penggunaannya.

Actually (sebenarnya)  /  in fact (faktanya)

Baik actually maupun ‘in fact’, keduanya dapat digunakan untuk memodifikasi atau memperlawankan pernyataan yang telah dibuat sebelumnya:

  • I hear that you’re a doctor. ~ Well, actually, I’m a dentist. (Saya dengar bahwa anda adalah seorang dokter. ~ Yah, sebenarnya saya adalah seorang dokter gigi)
  • Well, it may sound very straightforward to you, but in fact it’s all very complicated. (Yah, ini mungkin terdengar sangat mudah bagimu, tapi kenyataannya ini semua sangat rumit)
  • Well, actually I think it’s a good idea for them to socialise – up to a certain point!  (Yah, sebenarnya saya pikir itu adalah ide yang bagus untuk mereka bersosialisasi – sampai titik tertentu!)

Actually dan ‘in fact’ dapat pula digunakan untuk menyampaikan informasi yang lebih rinci atau untuk membuat beberapa hal lebih jelas atau lebih tepat:

  • Yes, well, actually / in fact I’ve been promoted to senior sales manager. (Ya, sebenarnya / faktanya saya telah dipromosikan menjadi manajer penjualan senior)
  • I got so bored listening to what he was saying thatI actually fell asleep / in fact I fell asleep half way through his presentation. (Saya menjadi sangat bosan mendengarkan apa yang dia katakan sampai saya benar-benar tertidur / faktanya saya tertidur melalui setengah presentasinya)

Catatlah bahwa kita juga dapat menggunakan ‘in actual fact’ (nyatanya / dalam kenyataan) atau ‘as a matter of fact’ (faktanya) untuk mengklarifikasi perihal tetentu atau untuk menyampaikan informasi baru:

  • I got so bored with what he was saying that in actual fact as a matter of fact I dozed off before he’d finished speaking. (Saya menjadi sangat bosan dengan apa yang sedang dia katakan sehingga nyatanya /  faktanya saya tertidur sebelum dia selesai berbicara)

Actually terkadang digunakan untuk menyampaikan kabar yang tidak menyenangkan:

  • Richard wants to invite us to spend the weekend at his cottage in the Lake District. Isn’t that exciting? ~ Well, actually, I’ve already said we can’t go. (Richard ingin mengundang kita untuk menghabiskan akhir pekan di penginapannya di distrik Lake (danau). Bukankah mengasyikkan? ~Yah, sebenarnya, saya sudah mengatakan kita tidak dapat pergi)

Catatlah bahwa ketika actually diletakkan di akhir kalimat, kata ini menkonfirmasi kabar yang tidak dikira-kira orang lain:

  • I don’t suppose you’ve posted my letters, have you? ~ I have, actually. (Saya tidak menduga anda telah mem-poskan surat saya, kan? ~ Saya sudah [poskan], sebenarnya)
  • Did you enjoy that modern opera at Covent Garden? ~ I did, actually. Very much. (Apakah anda menikmati opera modern itu di Covent Garden? ~ Ya, sebenarnya. Sangat [menikmati])

Well

Well digunkaan lebih luas sebagai pembuat perdebatan daripada ‘in fact’ atau actually. Sebagaimana yang dapat kita lihat dari contoh-contoh diatas dan dibawah ini, kata ini sangat luas digunakan untuk menandakan bahwa kita hendak mengatakan sesuatu. Kata ini terkadang digunakan untuk memberikan si pembicara lebih banyak waktu untuk berpikir:

  • So how much do you want for your 1999 Renault? ~Well, I was thinking of £2,500. (Jadi, berapa banyak yang anda inginkan untuk Renault tahun 1999 anda? ~ Yah, saya pikir £2,500)
  • So how do you propose to furnish the house? ~Well, I thought we might invest in some second-hand furniture. (Jadi, bagaimana anda mengusulkan untuk mengisi dengan perabotan / menghias rumah anda? ~ Yah, saya pikir kami mungkin membeli beberapa perabotan bekas)

Well juga digunakan untuk menyampaikan pernyataan yang mengindikasikan bahwa ekspektasi atas sesuatu belum dipenuhi:

  • You know I said I thought I might go skiing with Jamie this year? Well, I’m not going to now. (Anda tahu saya mengatakan saya pikir saya mungkin pergi bermain ski dengan Jamie tahun ini? Yah, saya tidak akan [pergi] sekarang)
  • How was the tennis lesson? ~Well, in actual fact, we forgot to go. (Bagaimana pelajaran tennisnya? ~ Yah, dalam kenyataan yang sebenarnya, kami lupa untuk pergi)

Well juga dapat digunakan untuk memperhalus koreksi atau kritik:

  • You live in South Kensington, don’t you? Well, Pimlico, actually. (Kamu tinggal di Kensington selatan , kan? Yah, Pimlico, sebenarnya)
  • You do like my yellow dress, don’t you? ~Well, yes, it’s quite nice. But I think the blue one would have suited you more. (Kamu benar menyukai gaun kuning saya, kan? ~ Yah, ya, ini cukup bagus. Tapi saya pikir yang biru akan lebih cocok untukmu)
  • Why didn’t you give Bob a lift back home? ~Well, how was I supposed to know he was at the match? (Kenapa kamu tidak memberi Bob tumpangan pulang? ~ Yah, bagaimana saya tahu dia ada di pertandingan?
  • I couldn’t find my way to the music centre. ~Well, why didn’t you ask me? (Saya tidak dapat menemukan jalan saya ke pusat musik. ~ Yah, kenapa kamu tidak bertanya pada saya?)

Well juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan informasi penting:

  • You know I’ve been seeing a lot of Eddie lately? ~ Hmm. ~Well, we’re going to get engaged. (Anda tahu saya telah sering menemui Eddie akhir-akhir ini? ~ Hmm. ~ Yah, kami akan bertunangan)

Oh well!

Jika anda mengatahan ‘oh well’ anda menyatakan bahwa anda menerima situasi apa adanya, meskipun anda tidak terlalu senang akan situasi tersebut.

  • I’m afraid you’ll have to pull out of the trip to Greece. ~Oh well, it doesn’t matter. (Saya takut anda harus keluar dari perjalanan  ke Yunani. ~ Oh yah, itu tidak masalah)
  • I’m afraid I forget to save that document and now I’ve lost it. ~Oh well, it can’t be helped. I’ll just have to re-type it. (Saya takut saya lupa untuk menyimpan dokumen itu dan sekarang saya telah menghilangkannya. ~ Oh, yah, itu sudah terlanjur. Saya hanya harus mengetiknya ulang)

 

Sumber:

  • http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/grammar/learnit/learnitv247.shtml

Apa Beda Learn dan Learnt?

Kali ini Belajar Inggris Online akan membahas seputar penggunaan yang sesuai untuk kata learn dan learnt. Apakah terdapat perbedaan di antra keduanya?

Pada dasarnya kedua bentuk ini benar. Anda dapat mengatakan , ‘I learned – ed atau –  I learnt to drive a truck in the army’ , keduanya benar. Tapi, bagaimana bisa?

Bentuk ‘–ed’ dari past tense adalah bentuk umum. Dan masih banyak kata dalam past tense lainnya yang menggunakan akhiran ‘–ed’:

  • I learned to drive a truck (Saya belajar untuk menyetir sebuah truk)
  • I learned to cook (Saya belajar untuk memasak)

Dan anda akan menemukan bahwa ada kecenderungan untuk kata kerja menjadi lebih umum seiring berjalannya waktu. Ini adalah ciri dari adanya perubahan bahasa. Semula, dalam bahasa Inggris British, setiap orang mengeja bentuk past tense dari kata learn dengan akhiran ‘-t’,

  • I learnt to drive (Saya belajar untuk menyetir)
  • I learnt to cook (Saya belajar untuk memasak)

Tapi sekarang anda akan menemukan lebih banyak orang  di Inggris menggunakan akhiran ‘–ed’.

Hal yang sama juga terjadi dengan kata spell, seperti contoh kalimat, ‘I spelt it incorrectly’ (Saya mengejanya dengan tidak benar), dengan akhiran ‘–t’. Tapi sekarang anda akan menemukan lebih banyak orang menggunakan, ‘I spelled it incorrectly’, dengan akhiran ‘–ed’. Ini mungkin karena pengaruh bahasa Inggris Amerika yang masuk ke Inggris, karena di Amerika akhiran ‘–ed’ digunakan untuk kata learn, spell, dream. Contonhnya pada frase ‘I dreamed’ dengan akhiran ‘–ed’. Dan anda akan menemukan bahwa pengejaan gaya Amerika ini mulai menggantikan pengejaan gaya Inggris yang asli dalam bahasa Inggris British.

Hal utama untuk diingat adalah bahwa kedua bentuk ini benar. Akan tetapi, hal yang penting untuk anda lakukan adalah memilih bentuk mana yang akan anda gunakan, dan menggunakannya secara konsisten. Jadi, cobalah untuk menghindari mencampur penggunaan akhiran ‘–ed’ dan ‘–t’. Cobalah untuk menggunakan hanya satu, tetapi itu terserah pada anda untuk memutuskan yang mana yang ingin anda gunakan.

 

Sumber:

  • http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/radio/specials/1535_questionanswer/page50.shtml

Penggunaan Kata Penghubung: As, While, When dan As Long As

Mari kita simak penggunaan kata penghubung yang berhubungan dengan waktu atau saat dimana suatu peristiwa berlangsung.  Belajar Inggris Online kali ini akan secara spesifik membahas kata penghubung as, while, when, dan ‘as long as’.

As atau while (sementara / selama)

Kita dapat menggunakan as atau while untuk berbicara tentang dua kejadian yang relatif lama yang berproses / mengalami kemajuan pada saat yang sama:

  • There was a lot to do. While I cleaned the car, my wife was preparing lunch. (Ada banyak yang [perlu] dilakukan. Sementara saya membersihkan mobil, istri saya menyiapkan makan siang)
  • She then did the ironing after lunch as I cleared away the dishes. (Dia kemuadian menyeterika setelah makan siang sementara saya membersihkan alat-alat makan)

Sebagai aturan umum, kita cenderung menggunakan while daripada as karena as memiliki banyak arti dan penggunaan yang berbeda. Sehingga, dapat membingungkan apakah as yang digunakan memiliki arti sementara (while) atau memiliki arti karena (because) :

  •  As I was doing my homework, my mum prepared my supper. (As = because)

Karena saya sedang mengerjakan pekerjaan rumah saya, ibu saya menyiapkan makan malam saya.

  • As I was doing my homework, my mum prepared my supper. (As = while)

Sementara saya sedang mengerjakan pekerjaan rumah saya, ibu saya menyiapkan makan malam saya.

As atau when (ketika)

Kita menggunakan as atau when untuk berbicara tentang dua kejadian yang relatif pendek yang terjadi pada saat yang sama. As dan when sering digunakan dengan kata just (baru saja) dalam konteks ini. Kita tidak dapat menggunakan while pada contoh berikut ini:

  • The telephone rang just when / just as I was about to leave. I decided not to answer it. (Telepon itu berdering ketika saya baru saja akan pergi)

Akan tetapi, jika kita ingin mengatakan bahwa ketika suatu hal berubah dan hal lainnya ikut berubah pada saat yang sama, ketika hal yang satu merupakan konsekwensi hal yang lain, kita cenderung menggunakan as:

  • As the day wore on, it became hotter and hotter. (sebagaimana hari berlalu, [hari] menjadi lebih panas dan lebih panas)
  • As you get older, it becomes more and more difficult to make friends. (Sebagaimana kamu bertambah dewasa, menjadi lebih dan lebih sulit untuk berteman)

While atau when

Dalam pembicaraan dan penulisan yang lebih formal, mungkin untuk anda mengganti subyek + to be dengan when dan while ketika induk dan anak kalimat merujuk pada subyek yang sama. Kita tidak dapat menggunakan as dengan cara ini:

  • When making cranberry jam, remember to use as much sugar as fruit. (Ketika sedang membuat selai cranberi, ingatlah untuk menggunakan gula sebanyak buah [yang digunakan])

When you are making cranberry jam, be sure to use as much sugar as fruit. (Ketika anda sedang membuat selai cranberi, pastikan untuk menggunakan gula sebanyak buah [yang digunakan])

  • While in France, he grew particularly fond of all varieties of cheese. (Selama di Perancis, dia menjadi suka semua macam keju)

While he was in France, he grew particularly fond of all types of cheese. (Selama dia berada di Perancis, dia menjadi suka semua jenis keju)

As long as : mengungkapkan waktu

Konstruksi ‘as…..as’ digunakan ketika kita membuat perbandingan dan membandingkan dua hal yang memiliki besaran / ukuran dan durasi yang sama:

  • There was extra time, so the football match lasted as long as the concert. (Ada waktu lebih, jadi pertandingan sepak bolanya berlangsung sama lamanya dengan konser)
  • He worked for as long as he wanted to on the project. (Dia bekerja selama yang dia mau pada proyek itu)
    “Take as long as you like,” they said. “There’s no hurry!”
    (“Ambil [waktu] selama yang kamu inginkan”, kata mereka. “Tidak perlu buru-buru)
  • As long as I live, I shall smoke no more cigarettes. (Selama saya hidup, saya tidak akan merokok)

As long as : mengungkapkan keadaan / kondisi

Catatlah bahwa ‘as long as’ juga digunakan dalam kalimat conditionals sebagai alternatif dari kata provided (asalkan), yang memiliki makna jika dan hnya jika. Frase ‘so long as’ juga mungkin untuk digunakan dalam konteks ini:

  •  I don’t mind. You can leave early, as long as you finish the work. (Saya tidak keberatan. Anda dapat pergi awal, selama anda menyelesaikan pekerjaannya)
  • I don’t mind. You can go home early, so long as you finish the work.(Saya tidak keberatan. Anda dapat pulang awal, selama anda menyelesaikan pekerjaannya)
  • I don’t mind. You can leave after lunch, provided you finish all the work. (Sya tidak keberatan. Anda dapat pergi setelah makan siang, asalkan anda menyelesaikan semua pekerjaannya)

 On a……..basis

Kata benda basis (dasar / azas) merujuk pada metode tertentu atau sistem untuk mengatur atau melakukan sesuatu. Kita memiliki ungkapan on a/an hourly / daily / monthly / annual / temporary / permanent basis:

  • These toilets are checked for cleanliness on an hourly basis. (Toilet-toilet ini diperiksa untuk kebersihan setiap jam)
  • She thought she would have the job on a permanent basis, but it turned out to be temporary. (Dia pikir dia akan memiliki pekerjaan itu secara permanen, tapi ternyata sementara)
  • This place is known as ‘the windy city’ and typhoons are expected on a regular basis. (Tempat ini dikenal sebagai ‘kota berangin’ dan topan diperkirakan [terjadi] secara teratur)

On the basis of / as a basis for

Di sini kita memiliki dua ungkapan yang lebih jauh, dengan kata basis dengan arti yang sedikit berbeda. Jika digunakan dengan kata depan on, basis merujuk pada system atau metode. Jika digunakan dengan kata depan as, maka merujuk pada ide, fakta, atau tindakan yang menjadi dasar sesuatu hal dapat berkembang:

  • The contract was awarded on the basis of cost more than anything else.(Kontrak ini diberikan atas dasar biaya lebih dari apapun)
  • These preliminary talks will be very useful as a basis for further negotiations.(Pembicaraan pendahuluan ini akan menjadi sangat berguna sebagai dasar untuk perundingan lebih jauh)

 

Sumber:

  • http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/grammar/learnit/learnitv294.shtml

Greetings dan Farewell

Kali ini Peace Kampung Inggris akan menjelaskan bagaimana greetings (salam perkenalan) dan farewell (salam perpisahan) digunakan dalam bahasa Inggris. Mari simak ulasan berikut.

Salam perkenalan/sapaan formal (formal greetings)

Salam perkenalan formal seperti ‘how do you do?’ (apa kabar?) kini tidak banyak digunakan terutama oleh anak-anak muda. Kalimat sapaan ini mungkin digunakan pada pertemuan pertama disertai dengan jabat tangan formal ketika kedua rekan mengucapkan salam yang sama. Balasan dari sapaan ‘how do you do?’ adalah ‘how do you do’ pula. Kemudian akan langsung dilanjutkan dengan  urusan yang ingin dibahas. Contoh:

A               : ‘How do you do?’ (apa kabar?)

B               : ‘How do you do?’ (apa kabar?)

A               : ‘I see that your company has been performing very well in South East Asia…’ (Saya melihat bahwa perusahaan anda telah menjalankan usaha dengan sangat baik di Asia Tenggara…’)

Kalimat sapaan yang lebih umum di antara dua orang yang bertemu disertai dengan jabat tangan dalam situasi yang cukup formal untuk pertama kali adalah: ‘Pleased to meet you’ atau ‘Nice to meet you’. (Keduanya memiliki arti, ‘senang bertemu anda)

Salam perkenalan tidak formal (informal greetings)

Cara yang paling umum untuk memberi salam kepada sesorang baik untuk tingkat tidak formal maupun yang lebih formal adalah, ‘Hello, how are you?’ (‘halo, apa kabar?’), dengan balasan standar yaitu, ‘very well, thank you’ (‘sangat baik, terima kasih’) atau ‘fine, thank you’ (‘baik, terima kasih’). Catatlah bahwa sapaan dalam bentuk pertanyaan tidak benar-benar dimaksudkan untuk mencari tahu tentang kondisi kesehatan seseorang. Setelah kita memberi balasan untuk sapaan seperti contoh diatas, kita biasanya mengulang sapaan dengan berkata: (And) how are you? (dan) bagaimana keadaan anda? atau(And) what about you?  (dan) bagaimana dengan anda?. Sedangkan respon yang disampaiakan masih sama, yaitu: ‘Fine, thank you’.

Pada kebanyakan tingkat informal, diantara teman atau anak-anak muda secara umum, sapaan yang paling umum mungkin : ‘Hi!’dengan respon yang sama, ‘Hi!’. Setelah sapaan ini, mungkin diikuti dengan kalimat berikut: How are things?,  How’s things?, How’s it going?(Are) you OK? Dengan jawaban yang tepat mungkin seperti:  Yeah, fine! atau dengan ungkapan gaya British, yaitu: Yeah, not so bad!

Salam perpisahan formal (formal farewell)

Dalam tingkatan formal, dan sekali lagi disertai dengan jabat tangan, salam perpisahan yang paling umum mungkin: (It was) nice to meet you (senang bertemu dengan anda), atau Nice to have met you (senang bertemu dengan anda). Jika aka nada pertemuan selanjutnya yang sudah diataur atau di sepakati, salam perpisahan mungkin dilanjutkan dengan kalimat: I’ll see you in three weeks. Bye, now (Saya akan menemui anda dalam tiga minggu, sampai jumpa).

Salam perpisahan tidak formal (informal farewell)

Berlaku pula dalam tingkatan yang lebih tidak formal,  pada pertemuan pertama, cukup normal untuk mengatakan: Nice to have met you. Bye/Goodbye (Senang bertemu anda. Selamat tinggal/sampai jumpa).

Diantara teman, salam perpisahan mungkin dapat berupa kombinasi dari beberapa contoh di bawah ini:

  • ‘Bye.’ (selamat tinggal)
  • ‘Bye-bye.’ (selamat tinggal)
  • ‘See you.’ (sampai jumpa)
  • ‘See you later./tomorrow./on Saturday./etc(sampai jumpa nanti/besok/pada hari minggu)
  • ‘Take care. (jaga diri) 

 

Sumber:

  • http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/grammar/learnit/learnitv52.shtml
  • https://www.edmonton.ca/programs_services/for_communities/hello-how-are-you.aspx